
Waduh...... Waduh......, Sepertinya dunia ini makin mendekati kiamat saja.
Bencana yang pernah terjadi di Muara Baru beberapa waktu lalu yaitu ROB atau naiknya permukaan air laut ke daratan sepertinya akan merambah ke daerah pantai lain di dunia jika memang Es Abadi di Kutub Utara mencair. Bukan hanya di Indonesia, kota-kota lain di dunia seperti New York, dan lainnya pun akan terancam tergenang jika es di Kutub Utara Mencair.
Tapi apa bisa es di Kutub Utara mencair..........???
Info yang saya dapat dari situs
Kompas ketika saya sedang mencari skrip untuk bahan siaran tanggal 29 April lalu menyebutkan bahwa Es abadi di Kutub Utara akan mencair pada musim panas tahun 2008 ini.
Prediksi dari para ahli selama ini menyebutkan bahwa lapisan es abadi di kutub utara mungkin hilang sama sekali tahun ini sepertinya menjadi kenyataan. Nah Jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, kenaikan muka air laut akibat pencairan es besar-besaran tidak dapat dicegah seperti yang ditakutkan selama ini oleh umat manusia dimanapun berada.
Peneliti Mark Serreze, dari Pusat Data Salju dan Es Nasional (NSIDC) AS, mengatakan musim panas tahun ini diperkirakan ekstrim sehingga dapat menyebabkan lapisan es kutub benar-benar habis. Sejumlah faktor yang mepengaruhi kondisi es kutub utara setahun lalu telah menyebabkan lapisan es di Kutub Utara tahun ini sangat tipis sehingga berisiko mencair saat memasuki musim panas.
Flashback pada bulan September 2007, tebal lapisan es di permukaan perairan Arktik mencapai rekor terendah. Bahkan karena hal ini, menyebabkan terusan Utara-Barat yang selama ini beku dan menghubungkan Greenland dan Alaska dapat dilalui kapal. Walaupun demikian Lapisan es di kawasan tersebut memang menebal kembali saat musim dingin, bahkan pada puncaknya Maret 2008 lapisan lebih luas dari cakupan es setahun sebelumnya.
Meski demikian, tren jangka panjang yang diukur sejak tahun 1978 menunjukkan bahwa luas es di Antartika terus menyusut. Kalaupun luasnya bertambah, yang terbentuk adalah lapisan es muda berusia setahun yang lebih mudah meleleh. Sementara itu, lapisan es abadi cenderung terus berkurang. Berdasarkan data dari NSIDC menyebutkan luas lapisan es abadi di kutub utara rata-rata menurun 44.000 kilometer persegi setiap tahun.
Peneliti Mark Serreze mengatakan bahwa Inilah hal yang harus mendapat perhatian dunia. Yang paling merisaukan adalah fakta bahwa es berumur tahunan - yang tidak meleleh saat musim panas - tidak dapat pulih secepat es Arktik yang biasanya meleleh. Sementara itu Luas lapisan es yang meleleh saat musim panas rata-rata setengah dari es baru yang terbentuk antara September hingga Maret. Namun, pada tahun 2007, hampir semua lapisan es yang baru terbentuk mencair.
Selain itu, pada musim dingin tahun ini terjadi fenomena puncak osilasi Arktik positif. Kondisi tersebut diketahui akan menyebabkan aliran angin kuat yang akan memaksa es abadi di Arktik meleleh dan airnya mengalir ke pantai timur Greenland. Kejadian-kejadian ekstrim seperti itulah yang menyebabkan lapisan es di kutub utara makin tipis dan muda.
Meski demikian, faktor-faktor alam lainnya dapat menyelamatkan lapisan es abadi. Jika tren aliran angin hangat seperti pada musim panas tahun lalu, kutub utara akan kehilangan banyak es abadinya. Namun, jika banyak berembus angin siklon yang bersifat mendinginkan, lapisan es bakal selamat.
Jika memang kondisi tersebut benar-benar terjadi, maka siap-siaplah kita manusia dan hewan yang hidup di kutub harus siap menghadapa dampaknya jika muka air laut naik, pasang, dan gelombang besar.
Tentunya ini tidak akan terjadi jika pemanasan global bisa kita hambat laju pertumbuhannya.
Maka dari itu, selagi kita mampu dan sempat, biasakanlah untuk menjaga lingkungan dengan baik, Banyak sekali hal-hal yang bisa menghambat laju pemanasan global.
Hemat energi, hemat kertas dan tissu, matikan alat elektronik yang tidak terpakai, tanam satu pohon minimal satu pohon untuk satu orang.
Sekecil apapun yang kita lakukan untuk menghambat pemanasan global, dampaknya sangat berarti bagi kelangsunhan manusia di bumi.
"Save Our Earth From The Damage Of Global Warming"